A. Dasar Pemikiran



Perkembangan teknologi semakin canggih. Informasi  melaju, lebih-lebih dengan hadirnya internet di tengah peradaban manusia pada akhir abad ke-20. Dunia menjadi boarder less, tanpa sekat, tanpa batas. Informasi menembus  dan menyelusup ke sudut-sudut terpencil dunia.


New media pun lahir sebagai putra teranyar media massa, dengan kemampuan melebihi bahkan mengakumulasi semua potensi senior-seniornya: cetak, radio, televisi. Ledakan media online dan banjir informasi yang laju ini, kemudian menimbulkan seabreg masalah, terutama masalah masalah etik. Masalah yang mengundang ancaman hukum bagi media dan jurnalisnya.

Salah satu penyebab masalah tersebut adalah mekanisme kerja. Tidak sedikit media online yang hanya mementingkan rating dan kecepatan, namun abai, tak patuh terhadap etika jurnalistik. Seperti, tidak balance, tidak cover both side.

Untuk meminimalisir permasalahan tersebut, perlu pembinaan kader sedini mungkin, antara lain dengan menanamkan pengetahuan seputar media online kepada mahasiswa, terutama aktivis pers mahasiswa dan mereka yang berminat di bidang jurnalistik.

Berangkat dari kesadaran itu, LPM Suara Kampus mengangkat Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) untuk mahasiswa se-Sumatera. Pelatihan ini akan menyuguhkan materi mendalam seputar media online. Dengan harapan, peserta bisa menguasai mekanisme kerja pengelolaan media online secara lebih berkualitas.

B. Nama Kegiatan
Kegiatan ini bernama Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) se-Sumatera LPM Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Padang.

C. Tema Kegiatan
“Jurnalisme Siber”

D. Tujuan Kegiatan
1. Memfasilitasi aktivis pers mahasiswa untuk menambah keterampilan dalam mengelola media online.
2. Memberi pemahaman yang mendalam bagi aktivis pers mahasiswa terhadap kode etik jurnalistik.

E. Hasil yang Diharapkan (Objective)
1. Peserta memahami Jurnalisme online dalam fenomena new media.
2. Peserta paham tentang pengelolaan media online.
3. Peserta mengetahui perkembangan gaya redaksional media online.
4. Peserta mengetahui kode etik jurnalistik.
5. Peserta mengenal ancaman hukum bagi pekerja media online.

F. Keluaran Program (output)
1. Bertambahnya jurnalis muda yang yang memiliki keterampilan dalam pengelolaan media online. Serta memahami kode etik jurnalistik. Sehingga bisa mengatasi problematika new media. 
2. Kehadiran perwakilan organisasi wartawan kampus dalam   PJTL menambah kekuatan  pers mahasiswa sebagai gerbang jurnalis profesional.

G. Pentingnya Program
Pelatihan ini sangat diperlukan karena:
1. Hadirnya media online sebagai new media, menuntut keterampilan jurnalis untuk menguasai sistim pengelolaan media online, dan memahami kode etik jurnalistik. Sebab, hal ini akan berpotensi mengancam media dan jurnalisnya.
2. Masih banyak wartawan kampus yang belum terampil dalam pengelolaan media online dan pemahaman terhadap kode etik jurnalistik.
3. Mahasiswa yang aktif di pers kampus sangat penting mengikuti kegiatan ini, karena merekalah generasi berikut yang secara profesional akan mengelola new media di masa depan.


H. Indikator Pencapaian
Hadirnya aktivis pers mahasiswa akan melahirkan kader-kader jurnalis profesional dalam pengelolaan media online. Parameter untuk mengukurnya, akan terlihat dari TOR, kehadiran aktivis pers mahasiswa, jurnalis yang diundang (daftar hadir), CV nara sumber berikut materi yang diberikan, notulensi diskusi, dokumentasi pelaksanaan acara.

I. Sasaran Peserta
Peserta pelatihan ini adalah Aktivis pers mahasiswa se-Sumatera. Namun, tidak tertutup kemungkinan juga bagi mahasiswa non-Persma yang berminat di bidang Jurnalistik.